bab 3 sekripsi karya tulis ilmiah



BAB III
METODE STUDI KASUS
A.    Desain Studi Kasus
Penyusunan studi kasus ini meggunakan desain penelitian deskriptif dengan menggunakan metode case study reaserch (studi kasus). Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan terhadap sekumpulan objek yang biasanya bertujuan untuk melihat gambaran fenomena (termasuk kesehatan) yang terjadi dalam suatu populasi tertentu. (Notoatmodjo,2010).
Studi kasus merupakan salah satu jenis penelitian yang meneliti permasalahan melalui suatu kasus Strategi ini dapat menyertakan bukti kuantitatif yang berstandar pada sumber (Notoatmodjo,2010).
Dalam studi kasus ini penulis mengambil 1 kasus tentang prosedur pemberian nebulizer untuk meningkatkan bersihan jalan dengan pneumonia pada pasien anak dibangsal anggrek Rumah Sakit Umum Daerah Surakarta.

B.     Batasan Istilah

1.    Tindakan nebulizer
Nebulizer adalah alat yang dapat mengubah obat berbentuk larutan menjadi aerosol secara terus – menerus dengan tenaga yang berasal dari udara yang didapatkan atau gelombang ultrasonik. Nebulizer adalah alat untuk merubah cairan (obat) menjadi uap yang sangat halus agar bisa dihisap kedalam saluran pernafasan dan paru-paru. Yang bertujuan untuk mengurangi sesak pada penderita asma atau pneumonia, untuk mengencerkan dahak, bronkospasme berkurang atau menghilang. Pengobatan dengan uap dapat membantu mengeluarkan lendir (sputum) dari tenggorokan (khususnya pada anak) dan membersihkan saluran pernafasan akibat polusi udara, rokok. (Sugihartiningsih, 2016).



2.    Ketidak efektifan bersihan jalan nafas
Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernafasan untuk mempertahankan kebersihan jalan nafas (Ridha, 2014). Bersihan jalan nafas merupakan kondisi pernafasan yang tidak normal akibat ketidakmampuan batuk secara efektif, dapat disebabkan oleh sekret yang kental atau berlebihan akibat penyakit infeksi,imobilisasi, statis sekret dan batuk tidak efektif. Bersihan jalan nafas (obstruksi jalan nafas) mempunyai tanda-tanda seperti : batuk tidak efektif, tidak mampu mengeluarkan sekresi dijalan nafas, suara nafas menunjukkan adanya sumbatan dan jumlah, irama dan kedalaman pernafasan tidak normal (Hidayat. A, 2009).
3.      Pneumonia
 Salah satu penyakit infeksi saluran pernapasan bawah akut (ISNBA) dengan gejala batuk dan sesak nafas, kelainan berupa peradangan parenkim paru-paru yang disertai eksudasi dan konsolidasi. Peradangan tersebut disebabkan oleh mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, parasit), oleh bahan kimia,  ataupun karena paparan fisik seperti suhu atau radiasi. Peradangan parenkim paru disebabkan oleh penyebab selain mikroorganisme (fisik, kimiawi, alergi) sering disebut sebagi pneumonitis (Nurarif dkk, 2013; Djojodibroto, 2014)

C.    Tempat dan Waktu Studi Kasus
Studi kasus ini dilakukan pada pasien anak dengan diagnosa medis pneumonia, dan maslah keperawatan ketidakefektifan bersihan jalan nafas di bangsal Anggrek Rumah Sakit Umum Daerah Surakarta, adapun waktu penelitian studi kasus pada bulan november minggu keempat sampai selesai (jadwal terlampir).

D.    Subjek Studi Kasus/Partisipan
Hal ini perlu dijelaskan pada bagian ini adalah “karena pendekatan studi kasus yang dipilih dalam studi kasus ini adalah menggunakan metode deskriptif dengan strategi studi kasus (case study reaserch). Cara menetapkan subjek dengan kriteria inklusi dan ekslusi (Notoatmodjo,2010), kriteria inklusi adalah ciri-ciri yang perlu dipenuhi oleh setiap anggota populasi yang dapat diambil sebagai sampel. Sedangkan kriteria eksklusi adalah ciri-ciri anggota populasi yang tidak dapat diambil sebagai sampel.
Subjek pada studi kasus ini adalah pada 1 pasien anak dengan diagnose medis pneumonia dan masalah keperawatan utama ketidakefektifan bersihan jalan nafas.

E.     Metode Pengumpulan Data dan Instrumen studi kasus
1.    Metode Pengumpulan Data (Data Primer dan Data Sekunder)
Tehnik pengumpulan data :
Dalam hal ini penulis menjelaskan tentang metode pengumpulan data meliputi:
a.         Metode observasi partisipatif (pengamat terlibat)
Suatu prosedur berencana, yang antara lain meliputi melihat, mendengar, dan mencatat sejumlah taraf aktivitas tertentu atau situasi tertentu yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti.  dan membuat lembar observasi dengan merinci aspek – aspek yang akan diobservasi. Dengan metode untuk mengatasi ketidakefektifan bersihan jalan nafas pada pasien pneumonia. (Notoatmodjo, 2010).
b.        Metode wawancara tak terstruktur
Suatu metode yang dipergunakan untuk mengumpulkan data, dimana peneliti mendapatkan keterangan atau informasi secara lisan dari keluaraga, dokter, perawat, dengan cara bercakap – cakap berhadapan muka dengan orang tersebut (face to face). Data dapat diperoleh melalui percakapan, gejala -  gejala sosial yang tidak dapat terlihat atau diperoleh melalui observasi dapat digali dari wawancara. (Notoatmodjo, 2010).


c.         Metode pengukuran
Dalam hal ini penulis melakukan test yang berkaitan dengan masalah kasusnya yaitu melakukan tindakan nebulizer untuk mengatasi ketidakefektifan bersihan jalan nafas. Mengukur keberhasilan tindakan nebulizer yang dilakukan 2 kali dalam selama 3 hari,  dengan mengecek respon keadaan sebelum dan sesudah dilakukan nebulizer, dan diharapkan KU, RR dalam rentang normoal, serta pemeriksaan  auskultasi dada untuk mengetahui adanya suara ronkhi atau suara nafas tambahan (Notoatmodjo, 2010).
d.        Metode dokumentasi
Data yang diperoleh tentang kondisi pasien atau riwayat perawatan sebelumnya penulis dapat mengambil data dari dokumen: status pasien, hasil pemeriksaan, program terapi, dan lain-lain. (Aziz, 2014).
2.    Instrumen Studi Kasus
Instrumen penelitian adalah alat – alat yang akan digunakan untuk pengumpulan data (Notoatmodjo,2018), alat dan instrumen yang digunakan dalam pengambilan studi kasus ini antara lain :
a.    Format asuhan keperawatan yang digunakan dalam pengambilan data melalui proses asuhan keperawatan, yaitu format asuhan keperawatan anak.
b.    Penulis sendiri adalah memfokuskan pada lembar observasi/ lembar perkembangan pasien yang digunakan dalam studi kasus.peneliti diharapkan betul – betul harus :
1)   Memahami model analisa studi kasus
2)   Menguasai wawasan/ konsep yang diteliti
3)   Kematangan kesiapan melakukan studi kasus
c.    SOP (Standar Operasional Prosedur) tentang prosedur pemberian nebulizer untuk mengatasi ketidakefektifan bersihan jalan nafas pada anak sebagai intervensi atau pedoman

F.     Metode Uji Keabsahan Data
Uji keabsahan data pada dasarnya merupakan pengganti konsep validitas internal dari penelitian. Uji keabsahan data mempunyai fungsi yaitu untuk mengetahui tingkat kepercayaan hasil dari penelitian (Prastowo, 2011).
Menurut Moleong (2010), kriteria keabsahan data ada empat macam yaitu kepercayaan (kredibility) maksud dari kepercyaan ini ialah kegiatan untuk meningkatkan kemungkinan temuan yang dapat dipercaya akan dihasilkan yaitu dengan memperpanjang keterlibatan peneliti dilokasi penelitian dalam berinteraksi dengan orang-orang untuk lebih lama lagi dari jadwal semula, keteralihan (tranferability) ialah membuat pernyataan yang relatif tepat tentang validitas eksternal misalnya dinyatakan dalam bentuk batas-batas kepercayaan statistik, kebergantungan (dependability) ialah keberuntungan secara langsung telah ada panutan dalam melakukan penelitian melalui penelitian yang sebelumnya, dan kepastian (konfirmability) ialah pemeriksaan ketegasan temuan, disamping teknik triangulasi dan jurnal lainnya yang digunakan untuk konfirmiti terlihat dengan proses pemeriksaan.
Dalam pengecekan data peneliti menggunakan teknik pemeriksaan keabsahan data yaitu triangulasi yang terdiri dari triangulasi dengan sumber, metode dan teori. Triangulasi berarti cara terbaik untuk menghilangkan adanya perbedaan kontruksi kenyataan yang ada dalam konteks studi sewaktu peneliti mengumpulkan data tentang berbagai kejadian atau peristiwa dan hubungan dari berbagai pendapat. Dengan kata lain bahwa dengan triangulasi peneliti kualitatif dapat melakukan chek and recheck hasil temuannya dengan jalan membanding-bandingkan berbagai sumber, metode, dan teori. Untuk itu peneliti dapat melakukannya dengan cara  berikut yaitu: mengajukan berbagai macam variasi pertanyaan, melakukan pengecekan dengan berbagai macam sumber data, dan memanfaatkan berbagai metode agar pengecekan kepercayaan data dapat dilakukan.
Peneliti menggunakan teknik ini untuk menghilangkan perbedaan-perbedaan konstruksi kenyataan yang ada dalam konteks suatu studi sewaktu mengumpulkan data tentang berbagai kejadian dan hubungan dari berbagai pandangan. Dengan kata lain, peneliti dapat mengecek temuannya dengan jalan membandingkannya dengan berbagai sumber, metode, atau teori.

G.    Metode analisa data
Analisa data adalah proses mencari dan menyusun secara sistemmatis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan (observasi) dan bahan-bahan lain (dokumentasi), sehingga dapat mudah dipahami dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain (Sugiyono, 2016).
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data lapangan model ( miles dan Huberman, 2009). Yang disebut pula dengan teknik analisis data interaktif dimana analisis data dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Proses analisis data menurut model Miles dan Huberman yaitu meliputi aktivitas pengumpulan data, data reduction (reduksi data/merangkum), data display (penyajian data), dan conslusion drawing atau penarikan kesimpulan/verifikasi.
Metode analisa data yang digunakan penulis dalam penelitian ini yaitu pendekatan studi kasus dimana penulis memperoleh data dari observasi langsung ke lapangan yang berupa wawancara dan dokumentasi lainnya sehingga data yang diperoleh lebih akurat dan teruji kebenarannya.

H.    Etika Studi Kasus
Merupakan suatau keharusan pada saat akan memulai suatu studi kasus untuk menjaga kerahasiaan dan memberi keamanan pada responden. Etika studi kasus merupakan masalah yang sangat penting dalam studi kasus, mengingat studi kasus keperawatan berhubungan langsung dengan manusia, maka etika studi kasus harus diperhatikan. Masalah etika yang harus diperhatikan antara lain :
1.      Informed consent (Persetujuan)
Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan responden penelititan dengan memberikan lembar persetujuan. Informed consent tersebut diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden. Tujuan informed consent adalah agar subjek mengerti maksud dan tujuan penelitian, mengetahui dampaknya. Jika subjek bersedia, maka mereka harus menandatangani lembar persetujuan, jika responden tidak bersedia, maka peneliti harus menghormati hak pasien.
2.      Tanpa Nama (Anonim)
Tanpa nama merupakan pemberian jaminan dalam penggunaan subjek penelitian dengan cara tidak memberikan atau mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya menulis kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan disajikan.
3.      Kerahasiaan (Confidentiality)
Kerahasiaan merupakan pemberian jaminan kerahasiaan penelitian, baik informasi maupun masalah – masalah lainnya. Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamim kerhasiaan oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset. (Aziz, 2014).

catur purbo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Soal UAS patofisiologi