Bab 1 sekripsi dan karya tulis ilmiah
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pneumonia merupakan salah satu masalah kesehatan di
dunia dan penyumbang terbesar penyebab kematian anak usia dibawah lima tahun
(balita) dibandingkan penyakit AIDS, malaria, dan campak (Tong, 2013).
Pneumonia adalah peradangan yang menyebabkan nyeri saat bernafas dan
keterbatasan intake oksigen. Pneumonia dapat disebarkan dengan berbagai cara
antara lain batuk dan bersin (WHO, 2014). Pneumonia dapat disebabkan oleh
bakteri,virus, dan jamur. Pneumonia yang disebabkan oleh jamur jarang terjadi,
tetapi hal ini mungkin terjadi pada individu dengan masalah sistem imun yang
disebabkan AIDS, atau masalah kesehatan lain. Bakteri dan virus tersebut akan
segera memperbanyak diri setelah menginfeksi. Infeksi yang terjadi pada
individu umumnya menimbulkan gejala yaitu panas tinggi, napas terengah,
berkeringat, dan denyut jantung meningkat cepat, batuk disertai sputum yang
kental. Pada kasus yang parah, pasien akan menunjukkan gejala menggigil, mengeluarkan
lendir hijau saat batuk, serta nyeri dada (Misnadiarly, 2008). Masyarakat
beranggapan pneumonia yang disertai sesak nafas adalah masalah yang sangat
mengkhawatirkan dan menakutkan.
World Health
Organization (WHO) menyatakan pada tahun 2010
kematian bayi dan balita akibat pneumonia merupakan angka yang besar yaitu 18%
diikuti oleh diare sebesar 11%, sedangkan pada tahun 2011 menyebutkan bahwa
seperlima dari kematian bayi dan balita terutama dinegara-negara berkembang
setiap tahunnya terdapat 2 juta bayi meninggal karena pneumonia, 5.500 anak
meninggal setiap hari atau 4 bayi setiap menit (WHO, 2014).Berdasarkan profil
kesehatan indonesia (2015) pneumonia merupakan penyebab dari 15% kematian
balita yaitu diperkirakan sebanyak 922.000 balita ditahun 2015. Di indonesia
pneumonia tahun 2015 sebesar 0,16%,
angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2014 sebesar 0,08%. Pada kelompok bayi angka
kematian sedikit lebih tinggi yaitu sebesar 0,17% dibandingkan kelompok umur
1-4 tahun yang sebesar 0,15.Angka kematian balita diindonesia masih tinggi
yaitu sebesar 40/1000 kelahiran hidup (setara dengan 23 kematian per jam).
Kemenkes RI menetapkan tujuan penurunan angka kematian balita sebesar 20/1000
kelahiran hidup, di Provinsi Jawa Tengah pneumonia adalah penyumbang kematian
balita tertinggi (20,57%). Cakupan penemuan pneumonia di Jawa Tengah pada tahun
2015 adalah 29,89%. Angka ini masih dibawah target yaitu 80%.
Menurut Kemenkes RI, rendahnya angka cakupan
pneumonia balita dapat disebabkan antara lain karena sistem pelaporan belum
maksimal, deteksi kasus dipuskesmas masih rendah dan kelengkapan pelaporan
terutama dari kabupaten atau kota ke provinsi masih rendah (Ditjen PP&PL
Kemenkes RI, 2012).Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007,
menunjukkan morbiditas pneumonia pada bayi: 2,2% dan pada balita: 3% sedangkan
mortalitas pada bayi 23,8%, dan pada balita 15,5% (Depkes RI, 2011). Kematian peneumonia yang
terbesar ditemukan pada bayi berumur kurang dari 2 bulan (Depkes RI, 2010).
Cakupan pneumonia di Jawa Tengah pada 2015 adalah
29,89%. Angka ini masih dibawah target yaitu 80%. Cakupan pneumonia di Jawa
Tengah pada tahun 2014 sebesar 18,19%, tahun 2015 meningkat namun masih dibawah
target yaitu sebesar 36%. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan
salah satu penyebab utama kunjungan berobat pasien di Puskesmas (40% - 60%),
khususnya pada balita, ISPA merupakan penyakit yang sering terjadi dengan penyakit
batuk-pilek di Indonesia diperkirakan 3-6 kali per tahun. Kunjungan kasus ISPA
yang tinggi merupakan peluang bagi petugas kesehatan untuk menemukan pneumonia
pada balita yang datang dengan keluhan batuk/ kesukaran bernafas.
Pneumonia di surakarta pada tahun 2014-2015
menunjukkan bahwa sebagian besar berusia 0-5 tahun (27,71%) rata-rata perawatan
11 hari, dan angka kejadian tertinggi berusia kurang dari 5 tahun. karena
beratnya penyakit, dan harus diberikan obat atau perawatan yang sangat baik,
salah satunya dengan nebulizer untuk melonggarkan atau mematenkan jalan nafas
dan mengencerkan dahak.
Pasien pneumonian berada dalam keadaan dispnea dan
sianosis karena adanya radang paru dan banyaknya lendir dibronkus atau paru.
Dampaknya anak akan mengalami masalah ketidak efektifan jalan nafas akibat
lendir yang banyak. Agar pasien dapat bernapas secara lancar lendir tersebut
harus dikeluarkan dengan cara pemberian nebulizer dan untuk memenuhi kebutuhan
O2 berikan 2 Liter/menit secara rumat, karena pada anak biasanya
rewel, peran orang tua sangat dibutuhkan untuk memotivasi dalam pemberian
nebulizer yang berfungsi meningkatkan bersihan jalan napas. Dari latar belakang
diatas penulis tertarik untuk membuat karya tulis ilmiah berjudul : prosedur
pemberian nebulizer untuk meningkatkan bersihan jalan nafas pada An.H dengan
pneumonia di RSUD SURAKARTA.
B.
Rumusan Masalah
Bagaimanakah
penatalaksanaan prosedur pemberian nebulizer dalam meningkatkan bersihan jalan
napas pada An’H’ dengan peneumonia?
C.
Tujuan Studi kasus
1. Memberikan
gambaran atau deskripsi asuhan keperawatan dalam pemberian nebulizer untuk
meningkatkan bersihan jalan napas.
2. Mengidentifikasi
manfaat pemberian nebulizer dalam meningkatkan bersihan jalan napas.
D.
Manfaat Studi kasus
1. Manfaat
teoritis
Meningkatkan
pengetahuan bagi pembaca agar dapat melakukan pencegahan untuk diri sendiri dan
orang disekitarnya agar tidak terkena pneumonia.
2. Manfaat
praktis
a. Bagi
Rumah Sakit
Manfaat
praktis bagi rumah sakit yaitu dapat digunakan sebagai acuan dalam melakukan
tindakan asuhan keperawatan bagi pasien khususnya dengan gangguan system
pernapasan peneumonia.
b. Bagi
Perawat
Manfaat
praktis bagi perawat yaitu perawat dapat menetukan diagnosa dan intervensi
keperawatan yang tepat pada pasien dengan gangguan system pernapasan pneumonia.
c. Bagi
Instansi Akademik
Manfaat
praktis bagi instansi akademik yaitu dapat digunakan sebagai referensi bagi
institusi pendidikan untuk mengembangkan ilmu tentang asuhan keperawatan dengan
gangguan system pernapasan pneumonia.
d. Bagi
Pasien dan Keluarga
Manfaat
praktis bagi pasien dan keluarga yaitu supaya pasien dan keluarga dapat
mengetahui gambaran umum tentang gangguan system pernapasan pneumonia beserta
perawatan yang benar bagi klien agar penderita mendapat perawatan yang tepat.
Dan keluarga dapat melakukan pemberian nebulizer dirumah.
e. Bagi
Pembaca
Manfaat
bagi pembaca yaitu menjadi sumber referensi dan informasi bagi orang yang
membaca karya tulis ini supaya mengetahui dan lebih mendalami bagaimana cara
merawat pasien yang terkena pneumonia dengan pemberian nebulizer.
Komentar
Posting Komentar